Jumat, 24 April 2009

Model-Model Strategi Pembelajaran dan Penerapannya

A. Pendahuluan
Di dalam proses pemblajaran guru harus memiliki strategi agar siswa dapat belajar secara efektif dan afisien. Strtegi pemblajaran yang di terapkan guru akan tergantung pada pendekatan yang di gunakan, sedangkan bagaimana menjalankan strategi pmbelajaran itu dapat di tetapkan sebagai metode pembelajaran. Dalam upaya menjalankan metode pembelajaran guru dapat menentukan teknik yang di anggapnya relevan dengan metode dan penggunakan teknik itu setiap guru mempunyai teknik yang mungkin berbeda antara guru yang satu dengan guru yang lain.
B. Model-Model Strategi Pembelajaran dan Penerapannya
1. Strategi Pembelajaran Berorientasi Aktivitas Siswa
Penerapannya:
a.Perencanaannya:
- Adanya keterlibatan siswa dalam merumuskan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan, kemampuan, pengalaman dan
- Adanya ketrelibatan siswa dalam menyusun RPR
- Adanya keterlibatan dalam memilih dan menentukan sumber bahan yang di perlukan
- Adanya keterlibatan siswa dalam menentukan dan memilih media pembelajaran yang digunakan.
b.Proses Pembelajarannya:
- Adanya keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran
- Siswa belajar secara langsung (experientilearning)
- Adanya keinginan siswa untuk menciptakan ide belajar yang kondusif
- Adanya keterlibatan siswa dalam mencari dan memanfaatkan sumber belajar yang di anggap releva dengan tujuan pembelajaran
- Adanya interaksimulti arah baik antara siswa dengan siswa atau guru dengan siswa
c.Evaluasi Pembelajaran:
- Adanya keterlibatan siswa dalam mengevaluasi hasil belajar yang te;ah di lakukan
- Keterlibatan siswa secara mandiri dalam kegiatan semacam tes dan tugas yang harus di kerjakannya
- Kemauan siswa untuk menyusun laporan berkenaan dengan hasil belajar yang di perolehnya
2. Strategi Pembelajaran Expositori(SPE)
SPE merupakan strategi pembelajaran yang menentukan pada proses penyimpanan materi secara verbal dari seorang guru pada sekelompok siswa dengan maksud agar siswa dapat menguasai materi pelajaran secara optimal.
Penerapannya:
a.Persiapan(preparation):
- Berikan sugesti yang positif dan hindari sugesti yang negative
- Mulailah mengemukakan tujuan yang harus di capai
- Bukalah file dalam otak siswa
b.Penyajian(presentation)
- Penggunaan bahasa
- Intonasi suara
- Menjaga kontak mata dengan siswa
- Menggunakan joke-joke yang menyegarkan
c.Korelasi(correlation)
Ialah langkah menghubungkan materi pelajaran dengan pengalaman siswa atau hal-hal lain yang dapat menangkap keterkaitab dalam struktur pengetahuan yang telah di milikinya
d.Menyimpulkan(generalization) materi yang telah di sajikan
e.Mengaplikasikan(application)
3. Strategi Pembelajaran Inkuiri(SPI)
Adalah strategi pembelajaran yang menentukan pada proses berpikir kritis menganalisis untuk mencari dan menemukan jawaban dari suatu masalah yang di pertanyakan.
Penerapannya:
a.Orientasi, guru mengkondisikan agar siswa siap melakukan proses pembelajaran.
- Hal-hal yang perlu di perhatikan dalam tahap ini:
- Menjelaskan topik tujuan dan hasil belajar yang di capai siswa
- Menjelaskan pokok-pokok kegiatan yang harus di kerjakan siswa
- Menjelaskan pentingnya topik dan kegiatan belajar
b.Merumuskan masalah
- Hal-hal yang perlu di perhatikan dalam merumuskan masalah:
- Masalah hendaknya di rumuskan oleh siswa
- Masalah yang di kaji adalah masalah ang mengandung teka-teki yang jawabannya pasti
- Konsep dalam masalah sudah di ketahui siswa
c.Merumuskan hipotesis atau jawaban sementara dari permasalahan yang sedang di kaji
d.Mengumpulkan data
e.Menguji hipotesis berdasarkan pengumpulan data
f.Merumuskan kesimpulan
4. Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah(SPBM)
Langkah-langkah SPBM:
a.Menyadari masalah
b.Merumuskan masalah
c.Merumuskan hipotesis
d.Mengumpulkan data
e.Menguji hipotesis
f.Menentukan pilihan penyelesaian
5. Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berfikir(SPPKB)
Applikasi SPPKB:
a.Tahap orientasi, guru mengondisikan siswa pada posisi siap untuk belajar
b.Tahap pelacakan ialah tahapan penjajakan untuk memahami pengalaman dan kemampuan dasar siswa sesuai dengan tema dan pokok persoalan yang akan di bicarakan
c.Tahan kontrontasi adalah tahap penyajian persoalan yang harus di pecahkan sesuai dengan tingkat kemampuan dan pengalaman siswa
d.Tahap inkuiri adalah tahap pemecahan persoalan
e.Tahap akomodasi adalah tahapan pembentukan pengetahuan baru melalui proses penyimpulan
f.Tahap transfer adalah tahapan penyajian masalah baru yang sepadan dengan masalah yang di sajikan
6. Strategi Pembelajaran Koopratif(SPK)
Penerapannya:
a.Penjelasan materi, guru menyanpaikan pokok-pokok materi pelajaran sebelum siswa belajar dalam kelompok
b.Belajar dalam kelompok, siswa di dorong untuk bertukar informasi dan pendapat, mediskusikan permasalahan, membandingakan jawaban mereka dan mengoreksi hal-hal yang kurang tepat
c.Penilaian, penilaian bisa di lakukan dengan tes atau kuis maupun secara individu atau berkelompok
d.Pengakuan tim yang di anggap paling menonjol atau yang paling berprestasi kemudian di berikan penghargaan atau hadiah
7. Strategi Pembelajaran Kontekstual(CTL)
Pola pembelajaran CTL:
a.Pendahluan
Menjelaskan kompetensi yang harus di capai, manfaat dari proses pembelajaran dan pentingnya meteri pembelajaran yang akan di pelajari
- Guru menjelaskan prosedur pembelajaran CTL:
- Siswa di bagi ke dalam kelompok sesuai dengan jumlah siswa
- Tiap kelompok di berikan tugas observasi
- Siswa di tugaskan mencatat hal yang di temukan di lapangan
- Guru melakukan Tanya jawab sekitar ugas yang di berikan oleh setiap siswa
b.Inti
Di lapangan
- Siswa mencatat hal yang di temukan di lapangan
di kelas
- Siswa mendiskusikan hasil temuan mereka sesuai dengan kelompoknya masing-masing
- Siswa melaporkan hasil diskusi
- Setiap kelompok menjawab setiap pertanyaan yang di ajukan oleh kelompok lain
c.Penutup
- Dengan bantuan guru, siswa menyimpulkan hasil observasi di lapangan sesuai dengan indikator hasil belajar yang harus di capai
- Guru menugaskan siswa membuat karangan tentang pengalaman belajar mereka dengan tema lapangan
8. Strategi Pembelajaran Afektif
a. Penerapan model konsiderasi
1. Hadapkan siswa pada situasi yang mengandung konsiderasi
2. Mintalah siswa untuk menganalisis untuk menemukan isyarat yang tersembunyi berkenaan dengan perasaan kebutuhan dan kepentingan orang lain
3. Siswa menuluskan responnya masing-masing
4. Siswa menganalisis responnya
5. Mengajak siswa melihat akibat dari tiap tindakannya
6. Meminta siswa menentukan pilihannya sendiri
b. Penerapan model pembentukan rasional
1. Mengidentifikasi situasi dimana ada ketidak serasian atau penyimpangan tindakan
2. Menghimpun informasi lapangan
3. Menganalisis situasi dengan berpegang pada norma prinsip atau ketentuan yang berlaku dalam masyarakat
4. Merencanakan alternative tindakan dengan memikirkan akibatnya
c. Klarifikasi Nilai:
1. Pemilihan
2. Menghargai pemilihan, dan
3. Berbuat
d. Penerapan penembangan moral kognitif
1. Hadapkan siswa pada situasi yang mengandung dilema moral
2. Siswa di minta memilih tindakan yang mengandung nilai moral
3. Siswa di minta mendiskusikan atau menganalisis kebaikan dan keburukannya
4. Siswa di dorong untuk mencari tindakan yang lebih baik
5. Siswa menerapkan tindakan dalam segi lain
e. Menerapkan model non direktif
1. Menciptakan sesuatu yang permisif melalui ekspresi bebas
2. Pengungkapan, siswa mengungkapkan perasaan, pemikiran dan masalah yang di hadapinya, guru menerima dan memberikan klarifikasi
3. Memberikan pemahaman atau insight siswa, siswa mendiskusikan masalah, guru memberikan dorongan
4. Perencanaan dan penentuan keputusan, guru memberikan klarivikasi
5. Integrasi, siswa memperoleh pemahaman lebih luas dan mengembangkan kegiatan-kegiatan positif

Rabu, 08 April 2009

Metode Debat
Ditulis pada Nopember 16, 2007 oleh kiranawati

Metode debat merupakan salah satu metode pembelajaran yang sangat penting untuk meningkatkan kemampuan akademik siswa. Materi ajar dipilih dan disusun menjadi paket pro dan kontra. Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok dan setiap kelompok terdiri dari empat orang. Di dalam kelompoknya, siswa (dua orang mengambil posisi pro dan dua orang lainnya dalam posisi kontra) melakukan [...]

DIarsipkan di bawah: Model Model | 3 Komentar »
Metode Role Playing
Ditulis pada Nopember 16, 2007 oleh kiranawati

Metode Role Playing adalah suatu cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa. Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan siswa dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati. Permainan ini pada umumnya dilakukan lebih dari satu orang, hal itu bergantung kepada apa yang diperankan. Kelebihan metode Role Playing:
Melibatkan seluruh siswa dapat berpartisipasi mempunyai kesempatan [...]

DIarsipkan di bawah: Model Model | 8 Komentar »
Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving)
Ditulis pada Nopember 16, 2007 oleh kiranawati

Metode pemecahan
masalah (problem solving)
adalah penggunaan
metode dalam kegiatan
pembelajaran dengan jalan
melatih siswa menghadapi
berbagai masalah baik itu
masalah pribadi atau
perorangan maupun
masalah kelompok untuk
dipecahkan sendiri atau
secara bersama-sama.
Orientasi pembelajarannya
adalah investigasi dan
penemuan yang pada
dasarnya adalah
pemecahan masalah.
Adapun keunggulan
metode problem solving
sebagai berikut: 1. Melatih
siswa untuk mendesain
suatu penemuan. 2.
Berpikir dan bertindak
kreatif. 3. Memecahkan
masalah yang dihadapi
secara realistis 4.
Mengidentifikasi dan
melakukan penyelidikan. 5.
Menafsirkan dan
mengevaluasi hasil
pengamatan. 6.
Merangsang
perkembangan kemajuan
berfikir siswa untuk
menyelesaikan masalah
yang dihadapi dengan
tepat. 7. Dapat membuat
pendidikan sekolah lebih
relevan dengan kehidupan,
khususnya dunia

DIarsipkan di bawah: Model Model | 7 Komentar »
Pembelajaran Berdasarkan Masalah
Ditulis pada Nopember 16, 2007 oleh kiranawati

Pembelajaran Berdasarkan
Masalah Problem Based
Instruction (PBI)
memusatkan pada masalah
kehidupannya yang
bermakna bagi siswa,
peran guru menyajikan
masalah, mengajukan
pertanyaan dan
memfasilitasi penyelidikan
dan dialog. Langkah-
langkah: 1. Guru
menjelaskan tujuan
pembelajaran. Menjelaskan
logistik yang dibutuhkan.
Memotivasi siswa terlibat
dalam aktivitas pemecahan
masalah yang dipilih. 2.
Guru membantu siswa
mendefinisikan dan
mengorganisasikan tugas
belajar yang berhubungan
dengan masalah tersebut
(menetapkan topik, tugas,
jadwal, dll.) 3. Guru
mendorong siswa untuk
mengumpulkan informasi
yang sesuai, melaksanakan
eksperimen untuk
mendapatkan penjelasan
dan pemecahan masalah,
pengumpulan data,
hipotesis, pemecahan
masalah. 4. Guru
membantu siswa dalam
merencanakan dan
menyiapkan karya yang
sesuai seperti laporan dan
membantu mereka

DIarsipkan di bawah: Model Model | 5 Komentar »
Cooperative Script
Ditulis pada Nopember 16, 2007 oleh kiranawati

Skrip kooperatif adalah
metode belajar dimana
siswa bekerja berpasangan
dan secara lisan
mengikhtisarkan bagian-
bagian dari materi yang
dipelajari. Langkah-
langkah: 1. Guru membagi
siswa untuk berpasangan.
2. Guru membagikan
wacana / materi tiap siswa
untuk dibaca dan membuat
ringkasan. 3. Guru dan
siswa menetapkan siapa
yang pertama berperan
sebagai pembicara dan
siapa yang berperan
sebagai pendengar. 4.
Pembicara membacakan
ringkasannya selengkap
mungkin, dengan
memasukkan ide-ide pokok
dalam ringkasannya.
Sementara pendengar
menyimak / mengoreksi /
menunjukkan ide-ide pokok
yang kurang lengkap dan
membantu mengingat /
menghapal ide-ide pokok
dengan menghubungkan
materi sebelumnya atau
dengan materi lainnya. 5.
Bertukar peran, semula
sebagai pembicara ditukar
menjadi pendengar dan
sebaliknya, serta lakukan

DIarsipkan di bawah: Model Model | 10 Komentar »
Picture and Picture
Ditulis pada Nopember 16, 2007 oleh kiranawati

Picture and Picture adalah
suatu metode belajar yang
menggunakan gambar dan
dipasangkan / diurutkan
menjadi urutan logis.
Langkah-langkah: 1. Guru
menyampaikan kompetensi
yang ingin dicapai. 2.
Menyajikan materi sebagai
pengantar. 3. Guru
menunjukkan /
memperlihatkan gambar-
gambar yang berkaitan
dengan materi. 4. Guru
menunjuk / memanggil
siswa secara bergantian
memasang / mengurutkan
gambar-gambar menjadi
urutan yang logis. 5. Guru
menanyakan alas an /
dasar pemikiran urutan
gambar tersebut. 6. Dari
alasan / urutan gambar
tersebut guru memulai
menanamkan konsep /
materi sesuai dengan
kompetensi yang ingin
dicapai. 7. Kesimpulan /
rangkuman. Kebaikan: 1.
Guru lebih mengetahui
kemampuan masing-masing
siswa. 2. Melatih berpikir
logis dan

DIarsipkan di bawah: Model Model | 14 Komentar »
Numbered Heads Together
Ditulis pada Nopember 14, 2007 oleh kiranawati

Numbered Heads Together adalah suatu metode belajar dimana setiap siswa diberi nomor kemudian dibuat suatu kelompok kemudian secara acak guru memanggil nomor dari siswa.Langkah-langkah:

Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor.
Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya.
Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya.
Guru memanggil salah satu nomor [...]

DIarsipkan di bawah: Model Model | 3 Komentar »
Metode Investigasi Kelompok (Group Investigation)
Ditulis pada Nopember 13, 2007 oleh kiranawati

Metode investigasi
kelompok sering dipandang
sebagai metode yang
paling kompleks dan paling
sulit untuk dilaksanakan
dalam pembelajaran
kooperatif. Metode ini
melibatkan siswa sejak
perencanaan, baik dalam
menentukan topik maupun
cara untuk mempelajarinya
melalui investigasi. Metode
ini menuntut para siswa
untuk memiliki kemampuan
yang baik dalam
berkomunikasi maupun
dalam ketrampilan proses
kelompok (group process
skills). Para guru yang
menggunakan metode
investigasi kelompok
umumnya membagi kelas
menjadi beberapa
kelompok yang
beranggotakan 5 hingga 6
siswa dengan karakteristik
yang heterogen.
Pembagian kelompok dapat
juga didasarkan atas
kesenangan berteman atau
kesamaan minat terhadap
suatu topik tertentu. Para
siswa memilih topik yang
ingin dipelajari, mengikuti
investigasi mendalam
terhadap berbagai subtopik
yang telah dipilih, kemudian
menyiapkan dan
menyajikan suatu

DIarsipkan di bawah: Model Model | 7 Komentar »
Metode Jigsaw
Ditulis pada Nopember 13, 2007 oleh kiranawati

Pada dasarnya, dalam
model ini guru membagi
satuan informasi yang
besar menjadi komponen-
komponen lebih kecil.
Selanjutnya guru membagi
siswa ke dalam kelompok
belajar kooperatif yang
terdiri dari empat orang
siswa sehingga setiap
anggota
bertanggungjawab
terhadap penguasaan
setiap komponen/subtopik
yang ditugaskan guru
dengan sebaik-baiknya.
Siswa dari masing-masing
kelompok yang
bertanggungjawab
terhadap subtopik yang
sama membentuk kelompok
lagi yang terdiri dari yang
terdiri dari dua atau tiga
orang. Siswa-siswa ini
bekerja sama untuk
menyelesaikan tugas
kooperatifnya dalam: a)
belajar dan menjadi ahli
dalam subtopik bagiannya;
b) merencanakan
bagaimana mengajarkan
subtopik bagiannya kepada
anggota kelompoknya
semula. Setelah itu siswa
tersebut kembali lagi ke
kelompok masing-masing
sebagai “ahli” dalam
subtopiknya dan
mengajarkan informasi
penting dalam subtopik
tersebut kepada temannya

DIarsipkan di bawah: Model Model | 12 Komentar »
Metode Team Games Tournament (TGT)
Ditulis pada Nopember 13, 2007 oleh kiranawati

Pembelajaran kooperatif
model TGT adalah salah
satu tipe atau model
pembelajaran kooperatif
yang mudah diterapkan,
melibatkan aktivitas seluruh
siswa tanpa harus ada
perbedaan status,
melibatkan peran siswa
sebagai tutor sebaya dan
mengandung unsur
permainan dan
reinforcement. Aktivitas
belajar dengan permainan
yang dirancang dalam
pembelajaran kooperatif
model TGT memungkinkan
siswa dapat belajar lebih
rileks disamping
menumbuhkan tanggung
jawab, kerjasama,
persaingan sehat dan
keterlibatan belajar. Ada5
komponen utama dalam
komponen utama dalam
TGT yaitu: 1. Penyajian
kelas Pada awal
pembelajaran guru
menyampaikan materi
dalam penyajian kelas,
biasanya dilakukan dengan
pengajaran langsung atau
dengan ceramah, diskusi
yang dipimpin guru. Pada
saat penyajian kelas ini
siswa harus benar-benar
memperhatikan dan
memahami materi yang
disampaikan guru

Minggu, 05 April 2009

Penulisan dan pengumpulan Al-Qur’an melewati tiga jenjang.

TAHAP PERTAMA.
Zaman Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pada jenjang ini penyandaran pada hafalan lebih banyak daripada penyandaran pada tulisan karena hafalan para Sahabat Radhiyallahu ‘anhum sangat kuat dan cepat disamping sedikitnya orang yang bisa baca tulis dan sarananya. Oleh karena itu siapa saja dari kalangan mereka yang mendengar satu ayat, dia akan langsung menghafalnya atau menuliskannya dengan sarana seadanya di pelepah kurma, potongan kulit, permukaan batu cadas atau tulang belikat unta. Jumlah para penghapal Al-Qur’an sangat banyak

Dalam kitab Shahih Bukhari [1] dari Anas Ibn Malik Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus tujuh puluh orang yang disebut Al-Qurra’. Mereka dihadang dan dibunuh oleh penduduk dua desa dari suku Bani Sulaim ; Ri’l dan Dzakwan di dekat sumur Ma’unah. Namun dikalangan para sahabat selain mereka masih banyak para penghapal Al-Qur’an, seperti Khulafaur Rasyidin, Abdullah Ibn Mas’ud, Salim bekas budak Abu Hudzaifah, Ubay Ibn Ka’ab, Mu’adz Ibn Jabal, Zaid Ibn Tsabit dan Abu Darda Radhiyallahu ‘anhum.

TAHAP KEDUA
Pada zaman Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu tahun dua belas Hijriyah. Penyebabnya adalah : Pada perang Yamamah banyak dari kalangan Al-Qurra’ yang terbunuh, di antaranya Salim bekas budak Abu Hudzaifah ; salah seorang yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengambil pelajaran Al-Qur’an darinya.

Maka Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu memerintahkan untuk mengumpulkan Al-Qur’an agar tidak hilang. Dalam kitab Shahih Bukahri [2] disebutkan, bahwa Umar Ibn Khaththab mengemukakan pandangan tersebut kepada Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu setelah selesainya perang Yamamah. Abu Bakar tidak mau melakukannya karena takut dosa, sehingga Umar terus-menerus mengemukakan pandangannya sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala membukakan pintu hati Abu Bakar untuk hal itu, dia lalu memanggil Zaid Ibn Tsabit Radhiyallahu ‘anhu, di samping Abu Bakar bediri Umar, Abu Bakar mengatakan kepada Zaid : “Sesunguhnya engkau adalah seorang yang masih muda dan berakal cemrerlang, kami tidak meragukannmu, engkau dulu pernah menulis wahyu untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sekarang carilah Al-Qur’an dan kumpulkanlah!”, Zaid berkata : “Maka akupun mencari dan mengumpulkan Al-Qur’an dari pelepah kurma, permukaan batu cadas dan dari hafalan orang-orang. Mushaf tersebut
berada di tangan Abu Bakar hingga dia wafat, kemudian dipegang oleh Umar hingga wafatnya, dan kemudian di pegang oleh Hafsah Binti Umar Radhiyallahu ‘anhuma. Diriwayatkan oleh Bukhari secara panjang lebar.

Kaum muslimin saat itu seluruhnya sepakat dengan apa yang dilakukan oleh Abu Bakar, mereka menganggap perbuatannya itu sebagai nilai positif dan keutamaan bagi Abu Bakar, sampai Ali Ibn Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu mengatakan : “Orang yang paling besar pahalanya pada mushaf Al-Qur’an adalah Abu Bakar, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi rahmat kepada Abu Bakar karena, dialah orang yang pertama kali mengumpulkan Kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala.

TAHAP KETIGA
Pada zaman Amirul Mukminin Utsman Ibn Affan Radhiyallahu ‘anhu pada tahun dua puluh lima Hijriyah. Sebabnya adalah perbedaan kaum muslimin pada dialek bacaan Al-Qur’an sesuai dengan perbedaan mushaf-mushaf yang berada di tangan para sahabat Radhiyallahu ‘anhum. Hal itu dikhawatirkan akan menjadi fitnah, maka Utsman Radhiyallahu ‘anhu memerintahkan untuk mengumpulkan mushaf-mushaf tersebut menjadi satu mushaf sehingga kaum muslimin tidak berbeda bacaannya kemudian bertengkar pada Kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala dan akhirnya berpecah belah.

Dalam kitab Shahih Bukhari [3] disebutkan, bahwasanya Hudzaifah Ibnu Yaman Radhiyallahu ‘anhu datang menghadap Utsman Ibn Affan Radhiyallahu ‘anhu dari perang pembebasan Armenia dan Azerbaijan. Dia khawatir melihat perbedaaan mereka pada dialek bacaan Al-Qur’an, dia katakan : “Wahai Amirul Mukminin, selamtakanlah umat ini sebelum mereka berpecah belah pada Kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala seperti perpecahan kaum Yahudi dan Nasrani!” Utsman lalu mengutus seseorang kepada Hafsah Radhiyallahu ‘anhuma : “Kirimkan kepada kami mushaf yang engkau pegang agar kami gantikan mushaf-mushaf yang ada dengannya kemudian akan kami kembalikan kepadamu!”, Hafshah lalu mengirimkan mushaf tersebut.

Kemudian Utsman memerintahkan Zaid Ibn Tsabit, Abdullah Ibn Az-Zubair, Sa’id Ibnul Ash dan Abdurrahman Ibnul Harits Ibn Hisyam Radhiyallahu ‘anhum untuk menuliskannya kembali dan memperbanyaknya. Zaid Ibn Tsabit berasal dari kaum Anshar sementara tiga orang yang lain berasal dari Quraisy. Utsman mengatakan kepada ketiganya : “Jika kalian berbeda bacaan dengan Zaid Ibn Tsabit pada sebagian ayat Al-Qur’an, maka tuliskanlah dengan dialek Quraisy, karena Al-Qur’an diturunkan dengan dialek tersebut!”, merekapun lalu mengerjakannya dan setelah selesai, Utsman mengembalikan mushaf itu kepada Hafshah dan mengirimkan hasil pekerjaan tersebut ke seluruh penjuru negeri Islam serta memerintahkan untuk membakar naskah mushaf Al-Qur’an selainnya.

Utsman Radhiyallahu ‘anhu melakukan hal ini setelah meminta pendapat kepada para sahabat Radhiyalahu ‘anhum yang lain sesuai dengan apa yang diriwayatkan oleh Abu Dawud [4] dari Ali Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya dia mengatakan : “Demi Allah, tidaklah seseorang melakukan apa yang dilakukan pada mushaf-mushaf Al-Qur’an selain harus meminta pendapat kami semuanya”, Utsman mengatakan : “Aku berpendapat sebaiknya kita mengumpulkan manusia hanya pada satu Mushaf saja sehingga tidak terjadi perpecahan dan perbedaan”. Kami menjawab : “Alangkah baiknya pendapatmu itu”.

Mush’ab Ibn Sa’ad [5] mengatakan : “Aku melihat orang banyak ketika Utsman membakar mushaf-mushaf yang ada, merekapun keheranan melihatnya”, atau dia katakan : “Tidak ada seorangpun dari mereka yang mengingkarinya, hal itu adalah termasuk nilai positif bagi Amirul Mukminin Utsman Ibn Affan Radhiyallahu ‘anhu yang disepakati oleh kaum muslimin seluruhnya. Hal itu adalah penyempurnaan dari pengumpulan yang dilakukan Khalifah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu.

Perbedaan antara pengumpulan yang dilakukan Utsman dan pengumpulan yang dilakukan Abu Bakar Radhiyallahu anhuma adalah : Tujuan dari pengumpulan Al-Qur’an di zaman Abu Bakar adalah menuliskan dan mengumpulkan keseluruhan ayat-ayat Al-Qur’an dalam satu mushaf agar tidak tercecer dan tidak hilang tanpa membawa kaum muslimin untuk bersatu pada satu mushaf ; hal itu dikarenakan belih terlihat pengaruh dari perbedaan dialek bacaan yang mengharuskannya membawa mereka untuk bersatu pada satu mushaf Al-Qur’an saja.

Sedangkan tujuan dari pengumpulan Al-Qur’an di zaman Utsman Radhiyallahu ‘anhu adalah : Mengumpulkan dan menuliskan Al-Qur’an dalam satu mushaf dengan satu dialek bacaan dan membawa kaum muslimin untuk bersatu pada satu mushaf Al-Qur’an karena timbulnya pengaruh yang mengkhawatirkan pada perbedaan dialek bacaan Al-Qur’an.

Hasil yang didapatkan dari pengumpulan ini terlihat dengan timbulnya kemaslahatan yang besar di tengah-tengah kaum muslimin, di antaranya : Persatuan dan kesatuan, kesepakatan bersama dan saling berkasih sayang. Kemudian mudharat yang besarpun bisa dihindari yang di antaranya adalah : Perpecahan umat, perbedaan keyakinan, tersebar luasnya kebencian dan permusuhan.

Mushaf Al-Qur’an tetap seperti itu sampai sekarang dan disepakati oleh seluruh kaum muslimin serta diriwayatkan secara Mutawatir. Dipelajari oleh anak-anak dari orang dewasa, tidak bisa dipermainkan oleh tangan-tangan kotor para perusak dan tidak sampai tersentuh oleh hawa nafsu orang-orang yang menyeleweng.